Hachiko, Si Anjing yang setia

Hachiko, adalah nama seekor anjing yang legendaris dari jepang karena kesetiaannya kepada sang majikan, yakni seorang profesor bernama Hidesaburo Ueno. Yang sampai akhir masa hidupnya "Hachiko" masih saja menanti kedatangan sang tuan disebuah stasiun kereta api Shibuya Jepang dalam kurun waktu kurang lebih 9 tahun. Karena kesetiaan sepanjang hidupnya inilah akhirnya masyarakat jepang membuat sebuah monumen untuk mengenang loyalitas tinggi yang dilakukannya bukan oleh manusia melainkan binatang.




Kita, dalam hal ini mewakili golongan manusia, seringkali memakai istilah "anjing" untuk menyebut atau menggambarkan seekor binatang dengan perilaku yang sangat buruk, misalnya "anjing kau, bilang lunasi hutang 2 bulan sampai 2 tahun belum bayar juga" atau "anjing kau, bini orang diembat juga", bahkan bagi suatu aliran agama, anjing adalah binatang "najis" bila tersentuh olehnya saja harus segera membersihkan diri, doktrin ini berlaku bagi semua jenis anjing yang ada di bumi tanpa melihat dari kelebihan atau manfaat dari golongan binatang ini, misalnya kemampuan anjing pelacak yang telah puluhan bahkan ribuan kali membantu pengungkapan kasus-kasus kejahatan manusia. Namun dibelahan bumi yang lain, disebuah kota di Jepang yakni Tokyo, hal ini sama sekali tidak tidak bisa diterima, karena seekor "anjing" telah melakukan salah satu tindakan seperti yang dilakukan golongan manusia dalam hal loyalitas atau kesetiaan kepada seseorang yang dihormati atau dikasihi, dalam konteks ini kesetiaan "hachiko" kepada majikannya. Berikut ini kisah nyata "hachiko" yang memilukan sekaligus mampu memberikan inspirasi ribuan manusia sedunia :

Gambar ilustrasi "Hachiko" saat kecil.

Alkisah, kurang dari satu abad yang silam yakni pada tahun 1923, lahirlah seekor anjing yang imut dan tampan bernama "Hachi" dari ras 'Akita Inu' di sebuah peternakan kota kecil di Jepang bernama 'Odate', yang dirawat oleh sebuah keluarga bernama 'gichi saito'. hingga beberapa bulan sejak kelahiran hachi, datanglah seorang perantara ke peternakan tersebut membawa kabar bahwa ada seorang profesor dari Tokyo bernama 'Hidesaburo Ueno' ingin memelihara seekor anjing dari ras 'Akita Inu', Akhirnya hachi kecilpun terpilih dan dibawa ke kota tokyo dengan dimasukkan kedalam karung jerami sebelum diangkut kereta api dalam perjalanan selama 20 jam (maklum, pada masa itu ekonomi jepang tak sekaya dan semaju seperti sekarang ini). Dari sinilah kisah hidup hachipun dimulai, setelah sampai di kediaman sang profesor, hachipun disambut dengan gembira oleh profesor karena keinginannya untuk  memelihara anjing dari ras akitapun tercapai.

Gambar Profesor Ueno dan Hachiko.

Hari demi hari sang profesorpun merawat hachi dengan penuh perhatian dan penghargaan, wajar karena sang profesor adalah seorang yang gemar memelihara binatang jenis ini, bahkan lebih dari satu. Masa-masa indah hachipun dilalui bersama sang majikan, setiap pagi hachi selalu mengantar sang majikan sampai ke stasiun untuk pergi mengajar pada salah satu universitas di Tokyo, dan sorenya saat dimana sang majikan pulang, hachipun akan selalu menunggu kedatangannya di stasiun tersebut, yakni stasiun kereta api 'shibuya'. Hingga suatu ketika takdir berkata lain, kebahagiaan hachipun tak berlangsung lama, 2 tahun semenjak Hachi tinggal bersama Ueno yakni di tahun 1925, sebuah kejadian tak terduga kehendak dari sang penguasa alam, profesor ueno menghadap Tuhan YME. Pergi meninggalkan istri dan salah satu binatang piaraannya yakni hachi untuk selama-lamanya oleh penyakit yang dideritanya. Hachipun merasa benar-benar kehilangan, kejadian itu tak bisa diterimanya begitu saja, selama 3 hari dia tidak mau makan sedikitpun, dan selama 3 hari juga dia tetap mencari dan menunggu kedatangan tuannya, seolah seekor hachi merasa bahwa majikannya masih hidup.

Kesedihan Hachiko sepeninggal sang majikan.

Hari demi hari setelah kepergian sang profesor, kehidupan hachiko menjadi semakin memprihatinkan, karena istri almarhum profesor yang bernama "yae" pun pergi dari kediaman almarhum atau tidak bisa merawat dia lagi. Sebelum istri sang profesor pergi, dia menitipkan hachi pada salah satu kerabatnya yang memiliki usaha toko 'kimono' di kota 'Nihonbashi'. Mungkin karena kurang mendapat perhatian dan kasih sayang seperti yang pernah diberikan oleh almarhum profesor kepadanya, hachi sering melompat-lompat tak sopan saat ada pembeli di toko kimono milik majikan barunya tersebut,hingga akhirnya sekali lagi hachi dititipkan kepada kerabat 'yae' yang lain di 'asakusa'. ditempat barunya ini hachi sering membuat masalah yang menyebabkan pertengkaran kerabat 'yae' yang ditinggalinya dengan para tetangga. Lagi-lagi hachi harus pindah majikan. Akhirnya hachi dititipkan dirumah putri angkat almarhum profesor Ueno di 'Setayasa', kali ini hachi tidak membuat masalah pertengkaran dengan tetangga, namun hachi suka bermain diladang yang menyebabkan rusaknya tamanan sayur-sayuran. Hingga untuk yang terakhir kalinya hachi dititipkan kepada tukang kebun almarhum profesor Ueno bernama 'Kikoshaburo Kobayashi', yang tinggal berdekatan dengan stasiun 'Shibuya' yakni di kawasan 'Tomigaya', tempat dimana hachi pernah mengantar dan menjemput tuannya.
 
Profesor Hidesaburo Ueno, Majikan Hachiko.

Rupanya, bagi seekor Hachi, hanya profesor Ueno seorang, satu-satunya manusia yang dapat menerima dia apa adanya, yang bersedia memberikan kasih sayang dan menghargai dia seutuhnya. Terbukti setelah hachi tinggal bersama tukang kebun almarhum Ueno yakni 'kikoshaburo', saat sore hari, tepat pada jam-jam kepulangan almarhum profesor, hachi sering terlihat di stasiun 'Shibuya' tak lain hanya untuk menunggu kedatangan sang majikan yang sangat dihormati sekaligus sangat dirindukannya.

Sudah menjadi rahasia umum bagi kita bila ada seekor anjing di tempat umum dengan penampilan kotor alias menjijikkan seperti di terminal bis atau di stasiun kereta api, yang pasti kita tidak segan-segan untuk menendang, melemparinya, atau bahkan mengusirnya. Ini juga terjadi pada Hachi di stasiun Shibuya dalam masa penantian kedatangan tuannya. Namun apa hendak dikata, bagi seekor Hachi kebahagiaan tinggal dibumi hanya hadir saat dimana dia bersama tuannya, kelaparan, kedinginan saat salju turun, dan perlakuan kasar orang-orang di stasiun Shibuya tak pernah dan tak kan sanggup menghapus kerinduannya pada sang majikan. Hari berganti hari, bulan demi bulan dan tak terasa 5 tahunpun berlalu, tepatnya di tahun 1932, seekor "anjing" bernama Hachi masih saja berada di stasiun kereta itu menunggu tuannya, selama 5 tahun juga dia terus mendapat perlakuan kasar dari manusia.

Hingga akhirnya perlakuan kasar itu mendapat sorotan khusus dari seorang pemerhati anjing bernama 'Hirokichi saito' dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang, perlakuan kasar tersebut diberitakan oleh saito di harian 'Tokyo Asasi Shimbun' dengan judul 'Itoshiya roken monogatari' yang artinya 'Kisah Anjing Tua Yang Tercinta', setelah diberitakannya kisah memilukan Hachi tersebut, hachipun mulai terkenal dan mulai dihargai dan dilindungi. Orang-orang yang tadinya kasar kepadanyapun berubah menjadi sebaliknya. Pegawai stasiun, para pedagang, dan masyarakat disekitar stasiunpun mulai menyayanginya. Sejak itu pula nama hachi diberi akhiran "ko" yang artinya sayang, menjadi "Hachiko". Lagi-lagi sudah menjadi rahasia umum saat seseorang apalagi binatang, dimana masih bukan siapa-siapa atau belum bisa melakukan apa-apa, yang ada hanyalah pandangan sebelah mata, tak menghargai, alias sama halnya mengatakan 'Kamu Itu Siapa', namun saat yang dipandang sebelah mata tersebut menjadi terkenal, keadaan berbalik 360 derajat, menjadi disayang-sayang, dihargai, lantas apa harus terkenal dulu untuk bisa hidup layak seperti makhluk hidup yang lain, tentunya untuk ukuran manusia yang hidup dijaman modern seperti sekarang ini dimana pendidikan sudah mulai merata, hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang 'basi'.

Pintu masuk Hachiko di stasiun Shibuya.

Semenjak hari itu, aktifitas hachiko dalam masa penungguan tuannya menjadi lebih mudah, karena sudah tidak diperlakukan kasar lagi, namun seperti biasanya, hachikopun masih saja melakukan kebiasaanya untuk menunggu sang majikan. Hingga setahun kemudian, tepatnya ditahun 1933, seorang pematung bernama 'Teru Ando' tersentuh hatinya mendengar kisah hachiko tersebut, sang pematung berniat membuat patung perunggu Hachiko, karena pada saat itu, juga ada seseorang yang mengaku penanggung jawab hachiko berniat membuat gambar hachiko berupa gambar kartu pos, namun untuk dijual sebagai keuntungan pribadi.


Patung perunggu Hachiko didepan Stasiun Shibuya jepang.

Pada bulan maret 1934 acara pengumpulan dana untuk pembuatan patung perunggu Hachikopun dilaksanakan, tepatnya di gedung pemuda (Nihon Sainenkan), acara tersebut dihadiri kurang lebih 3000 penonton yang hendak melihat hachiko secara langsung. Akhirnya sebulan kemudian patung perunggu hachikopun selesai dibuat, diresmikan, dan diletakkan didepan stasiun Shibuya yang peresmiannya dihadiri oleh 300 orang dan hachiko sendiri. 'teru ando' juga membuat patung hachiko yang lain dengan posisi 'tiarap' untuk dihadiahkan kepada kaisar 'hirohito' dan 'permaisuri kojun'.

Penantian puluhan tahun Hachiko pun berakhir.

Dan akhirnya, disuatu pagi, tepatnya pukul 06.00, penantian panjang hachiko selama puluhan tahunpun berakhir, saat ditemukannya tubuh hachiko sudah tak barnyawa lagi di jalan dekat jembatan 'inari' yang masih satu kawasan dengan stasiun 'Shibuya', sebenarnya hachiko tak pernah ketempat itu. Berdasarkan hasil otopsi, penyebab kematian hachiko akibat cacing filariasis.

Makam Hachito disamping makam Hihesaburo Ueno.

Upacara perpisahan hachiko dihadiri orang banyak di stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myoyu-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachiko berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachiko dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset (kalau dijaman sekarang tentu hal itu tidak diperbolehkan), dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.

patung Hachiko di kota kelahirannya Odate jepang.

Pada 8 Juli 1935, patung Hachiko didirikan di kota kelahiran Hachiko di odate. tepatnya di depan Stasiun Odate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna yang artinya 'Balas Budi Jangan Dilupakan'.

Film Produksi Hollywood, Hachiko A Dog's Story, dibintangi Richard Gere.

Film Hachiko Monogatari karya sutradara Seijiro Koyama mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Pada bulan berikutnya diresmikan patung Hachiko di kota kelahirannya, Ōdate. Monumen peringatan ulang tahun Hachikō ke-80 didirikan 12 Oktober 2003 di lokasi rumah kelahiran Hachikō di Ōdate. Sebuah drama spesial tentang Hachikō ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun 2006. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita). Pada tahun 2009 film Hachiko: A Dog's Story karya sutradara Lasse Hallström mulai diputar dan dibintangi oleh Richard Gere dan Joan Allen.

Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Hachiko

Learn more »